HOMICIDE - Barisan Nisan


Written on June 15, 2008 – 6:47 pm | by buajingantengik

matahari terlalu pagi
mengkhianati

pena terlalu cepat
terbakar

kemungkinan terbesar
sekarang adalah memperbesar kemungkinan

pada ruang
ketidak-mungkinan

sehingga setiap orang
yang kami temui tak menemukan lagi satu pun

sudut kemungkinan
untuk berkata “tidak mungkin”

tanpa darah mereka
mengering

sebelum mata pena
berkarat menolak kembali terisi

sebelum semua paru
disesaki tragedi

dan pengulangan
menemukan maknanya sendiri

dalam pasar dan
semerbak deodorant

atau mungkin dalam
limbah dan kotoran

atau mungkin dalam
seragam sederetan nisan

atau mungkin dalam
pembebasan ala monitor 14 inci

yang menawarkan
hasrat pembangkangan ala Levi’s dan Nokia

atau dalam 666
halaman hikayat para bigot dan despot

yang menari ketika
jelaga zarkot berangsur menjadi kepulan hitam

berselubung Michael
Jordan di pojokan pabrik-pabrik ma’lun para

produsen kerak neraka
berlapis statistik

pembenaran teatrikal
super-mall

opera sabun panitia
penyusun undang-undang pemilu

yang mencoba
membanyol tentang kekonyolan demokrasi

yang rapi berdasi

bertopeng mutilasi
pembebasan dengan sekarung argumen basi

tentang bagaimana
menyamankan posisi pembiasaan diri di hadapan seonggok tinja

para sosok pembaharu
dunia bernama PASAR BEBAS

dan perdagangan yang
adil

untuk kemudian
memperlakukan hidup seperti AKABRI

dan dikebiri matahari

terlalu pagi
mengkhianati

dan heroisme berganti
nama menjadi C-4, Sukhoi dan fiksi berpagar konstitusi

menjenguk setiap
pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga

bernama Arjuna dan
Manusia Laba-laba

pahlawan dari Cobain
hingga Visius

dari berhala hingga
anonymous bernama Burung Garuda Pancasila

yang menampakkan diri
pada hari setiap situs menjadi sepejal bebatuan yang melayang

pada poros yang
sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Fir’aun berkhakis

yang muncul 24 jam
matahari dan gulita bertukar posisi di setiap pojokan

bahkan di kakus umum
dan selokan

mencari target
konsumen dan homogenisasi kelayakan

maka setiap angka
menjadi maka dan maka

ketika kita disuguhi
setiap statistik dan moncong senjata dengan ribuan unit SSK

untuk menjaga
stabilitas bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku
Panton sebagai panduan kebenaran

sejak hitam dan putih
hanya berlaku di hadapan mata setiap salafis

menolak terasuki
setan dan tuhan yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon

bubungan Big Mac dan
es krim corn yang berseru,

“Beli! Beli! Beli!
Konsumsi, konsumsi kami sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para
anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!”

oh… betapa menariknya
dunia yang sudah pasti

menjamin semua nyawa
dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi

dengan janji pahala
bertubi

dengan janji
akumulasi nilai lebih, bursa saham

dan dengan
semantik-semantik kekuasaan yang hanya berarti dalam kala

ketika periode
berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi

dan kekuatan hanya
berlaku paska konsumsi cairan suplemen, tonik dan para biggot bertemu kawanan

dan cinta hanya akan
berlabuh setelah melewati sederatan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau,
hitam, kuning, biru, merah, putih dan biru

dan merah

dan putih

oh… betapa indahnya
dunia yang berkalang fajar poin-poin NAFTA

sehingga pion-pion
negara yang berkubang di belakang pembenaran stabilisasi nasional

menemukan pembenaran
evolusi mereka dengan berpetakan saluran-saluran pencerahan

para rock-stars yang
lelah berkeluh-kesah

kala peluh mengering
kasat di hadapan pasang diri lalat dalam pasar

dan kilauan refleksi
etalase dan display berhala-hala

berskala lebih taghut
dari ampas neraka

diantara robekan
surat rekomendasi negara donor

perancang
undang-undang dan pakta-pakta anti-teror

para arsitek bahasa
penaklukan para pengagung kebebasan

kebebasan yang hanya
berlaku di hadapan layar sinetron, kemajemukan ponsel

demokrasi kotak suara
dan pluralisme gedung rubuh

oh betapa agungnya
dunia di hadapan barisan nisan yang dikebiri matahari

dan terlalu pagi
mengkhianati

maka jangan izinkan
aku untuk mati terlalu dini

wahai rotasi CD dan
seperangkat boombox ringkih

jangan izinkan aku
mendisiplinkan diri ke dalam barisan

wahai bentangan
seluloid dan narasi

dan demi perpanjangan
tangan remah di mulutmu anakku

jangan izinkan aku
terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini

demi setiap huruf
pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, Zahraku, mentariku!

Jangan sedetik pun
izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus

lelap tertidur tanpa
satu mata membuka tanpa pagi berhenti mensponsori keinginan berbisa

tanpa di lengan
kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan

bintang dan sabit

palu dan arit

bumi dan langit

lautan dan parit

dan sayap dan rakit

sehingga seluruh
paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar

memperbesar setiap
kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan

sehingga setiap orang
yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan

untuk berkata, “tidak
mungkin”

tanpa darah mereka
mengering

sebelum mata pena
berkarat dan menolak kembali terisi

matahari tak mungkin
lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati.

…..



You must be logged in to post a comment.