9 Kebohongan tentang GLOBAL WARMING
Written on May 4, 2008 – 6:58 pm | by buajingantengik
1. Karbondioksida adalah polutan
Karbondioksida merupakan gas non-toksik yang tidak berwarna, tidak
berbau, dan tidak berasa yang penting bagi semua kehidupan di bumi.
Semua tumbuh-tumbuhan hijau memerlukan karbondioksida untuk proses
fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan dan oksigen
bagi manusia dan hewan. Dengan meningkatnya karbondioksida maka
kecepatan pertumbuhan tanaman juga akan meningkat. Contohnya,
meningkatnya konsentrasi karbondioksida di atmosfer dari 325 ppmv
(parts per million by volume) pada tahun 1970 menjadi 375 ppmv saat
ini, menjadikan hasil panen gandum Australia meningkat selama 30 tahun
terakhir, yang merupakan bagian dari pengayaan karbondioksida.
2. Abad ke 20 merupakan abad terpanas dalam sejarah dan dekade 1990-2000 merupakan yang terpanas
Konferensi pers atas peluncuran Third Assessment Report oleh IPCC
(Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukkan grafik
temperatur belahan bumi utara dari tahun 1000 sampai 2000, grafik ini
dikenal sebagai Mann’s Hockey Stick. Dari tahun 1000-1900 temperatur
belahan bumi utara digambarkan mendingin 0.2°C. Dari tahun 1900-2000
temperatur menghangat 0.6°C.
Tujuan dari grafik ini untuk meligitimasi klaim bahwa pemanasan pada
abad ke-20 merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya;
yaitu karena emisi anthropogenik (ulah manusia) karbondioksida; yang
menuntut kebijakan dekarbonisasi harus diimplementasikan secepatnya.
Tapi, periode Medieval Warm Period, dari tahun 800 sampai 1300,
periode yang cukup hangat dimana Vikings dapat mendirikan koloni di
Greenland yang berlangsung selama 300 tahun, tidak dimasukkan kedalam
grafik!!! Periode Little Ice Age dari tahun 1560 sampai 1850 juga
dihapus dari grafik ini.
Medieval Warm Period ini merupakan fenomena global. Pada periode
ini, Eropa menikmati kemakmuran pertanian dengan melimpahnya makanan
dan pesatnya pertumbuhan populasi. Kala itu mereka membuat proses besar
dibidang teknologi, penemuan seperti jam mekanik dan kincir angin,
pendirian katedral besar, dan pembangunan kota dagang seperti Venice,
Amsterdam, dan London. Merupakan suatu ironi bahwa para global warmers
harus menghapus era yang luar biasa ini dari kampanye mereka.
3. Bukti yang menyatakan emisi anthropogenik (ulah manusia) karbondioksida menentukan pemanasan saat ini
Jika kita memplotkan temperatur global dan konsentrasi
karbondioksida di atmosfer pada periode 1970-2000, kita akan
mendapatkan korelasi yang beralasan, dan tampak masuk akal untuk
mengatakan bahwa emisi anthropogenik yang menyebabkan pemanasan global.
Korelasi yang baik tidak membuktikan sebab akibat antar dua variable,
dan yang lebih penting, jika kita memperluas skalanya dan memplotkan
konsumsi bahan bakar fosil (yang mewakili emisi anthropogenik) dengan
perubahan temperatur dari 1860 sampai 2000, kita akan melihat tidak ada
korelasi sama sekali. Perhatikan grafik ini!!!
Perhatikan disini temperatur global meningkat dari 1860 sampai 1875,
kemudian mendingin sampai 1890, meningkat sampai 1903, turun sampai
1918, dan meningkat drastis sampai 1941-42. Kita lalu mengalami
pendinginan yang panjang sampai 1976, tahun dimana Pasific Climate
Shift, dan sejak itu temperatur meningkat kira-kira 0.4°C. Tidak ada
korelasi antara kurva temperatur dan kurva anthropogenik CO2 selama
lebih dari 140 tahun!
4. Konsensus ilmiah yang menyatakan emisi anthropogenik CO2
telah menyebabkan pemanasan global yang signifikan dan harus segera
dibatasi untuk mencegah malapetaka di masa depan
Beberapa hari sebelum COP (Conference of the Parties), sebuah
pertemuan negara-negara yang meratifikasi UNFCCC (United Nation
Framework Convention on Climate Change), yang diselenggarakan di Buenos
Aires Desember 2004, Jurnal Science dipublikasikan Dr Naomi Oreskes,
professor di University of California di San Diego. Dia mengklaim telah
menganalisis abstrak – menggunakan keywords ‘climate change’- dari
semua paper ilmiah yang terdaftar pada ISI database pada dekade
1993-2003. Tujuh puluh lima persen dari 928 abstrak yang dia analisis
(yaitu 695) masuk kedalam kategori ‘baik secara implisit atau eksplisit
menerima pandangan konsensus’. Untuk pertama kalinya bukti empiris
menunjukkan kebulatan suara dengan konsensus terhadap emisi
anthropogenik pada global warming.
Dr Benny Peiser dari John Moores University di Liverpool memutuskan
untuk meniru studi ini. Dia menemukan bahwa pencarian pada ISI database
menggunakan keyword ‘climate change’ dari tahun 1993-2003 menunjukkan
hampir 12.000 paper yang dipublikasikan dipertanyakan. Orekes kemudian
mengakui bahwa dia menggunakan keywords ‘global climate change’. Hal
ini mengurangi paper yang di-review menjadi 1247 yang mana yang telah
diabstrakkan berjumlah 1117.
Dari 1117 abstrak, hanya 13 (1%) yang secara eksplisit mendukung
‘pandangan konsensus’. Tiga puluh empat abstrak ditolak atau
dipertanyakan tentang pandangan bahwa manusia adalah pendorong utama
‘pemanasan selama lebih dari 50 tahun pengamatan’.
Orakes mengklaim bahwa ‘tidak ada satupun paper yang menentang [bahwa
climate change saat ini alami]. Tapi, 44 paper menekankan bahwa faktor
alam memainkan peranan penting ,jika tidak, merupakan kunci dari
climate change saat ini.
Dr Preiser mengirim surat ke Science untuk memuat hasil investigasinya. Science menolak untuk mempublikasikannya.
Hendrik Tennekes, ahli fisika turbulen dunia, yang baru pensiun dari
Director of Research, Royal Netherlands Meteorological Institute:
Kekolotan para ahli climate menyebabkan kesalahpahaman yang
disebabkan oleh pembicara, seperti yang dilakukan IPCC, tentang dasar
ilmiah Climate Change. Karena itu, saya merespon ideology itu dengan
menyatakan bahwa tidak mungkin fisika dapat menghasilkan dasar ilmiah
yang dapat diterima secara universal untuk digunakan untuk mengambil
kebijakan tentang climate change.
Garth Paltridge dari Australia, ilmuan terkemuka yang telah pensiun
dari jabatannya sebagai Director of the Antarctic CRC and IASOS di
University of Tasmania, berkomentar:
Tiap laporan [IPCC Assessment Report] diutarakan dengan cara
tertentu agar tampak lebih meyakinkan dibandingkan laporan terakhir
bahwa pemanasan rumah kaca berpotensi menyebabkan bencana kemanusiaan.
Keyakinan itu tidak berasal dari cabang ilmu manapun. Tapi itu
merupakan fungsi dari betapa kuatnya pernyataan tentang global warming
diutarakan tanpa mendapat sanggahan dari komunitas ilmuan. Selama
bertahun-tahun, opini dari komunitas itu telah dimanipulasi
setidak-tidaknya mendukung secara pasif kampanye untuk mengisolasi –
dan tentu saja memperburuk – keraguan ilmiah diluar pusat aktifitas
IPCC. Audiens telah diposisikan untuk menerima. Dengan demikian mereka
secara bertahap menjadi lebih mudah untuk menjual bencana efek rumah
kaca.
5. Emisi anthropogenik CO2 dan penyebab global warming yang
lain bertanggung jawab tidak hanya pada peningkatan temperatur dan
kekeringan, tapi juga terhadap meningkatnya badai salju, salju yang
tidak pada musimnya, dan cuaca yang membekukan. Mereka juga bertanggung
jawab terhadap meningkatnya jumlah angin topan.
Tahun-tahun belakangan ini Amerika Utara, UK, dan Eropa Utara
mengalami musim dingin yang parah (tapi tidak separah musim dingin
1946-47), menyebabkan cerita global warming mulai terlihat usang.
Sehingga kata ‘climate change’ menggantikan global warming, dan
penjelasan diletakkan di awal untuk menjelaskan mengapa peningkatan
emisi anthropogenik CO2 dapat menyebabkan musim dingin yang parah dan
juga musim panas yang terlalu panas. Puncak kampanye ini adalah film
The Day After Tomorrow yang memperlihatkan New York dibanjiri salju dan
es ketika global warming memicu datangnya jaman es berikutnya.
Salah satu argumen yang sering dipakai adalah berhentinya arus teluk
(Gulf Stream) oleh global warming beserta akibatnya yang menghebohkan
seluruh Eropa. Carl Wunsch, Professor of Physical Oceanography pada MIT
dan ahli kelautan dunia menyatakan:
Satu-satunya cara untuk menghasilkan sirkulasi laut tanpa arus teluk
adalah dengan cara mematikan sistem angin atau menghentikan rotasi
bumi, atau keduanya.
Beberapa bulan lalu (artikel ini dirilis Februari 06) di Florida,
Louisiana dan Texas muncul beberapa angin topan besar. Katrina,
khususnya, menyebabkan kerusakan yang luar biasa di New Orleans. Sekali
lagi para global warmers dengan cepat menyalahkan ini semua pada global
warming dan emisi anthropogenik. Swiss Re dan Munich Re adalah dua
perusahaan asuransi besar yang melakukan semua yang mereka bisa untuk
mendukung argumen yang menyatakan anthropogenik CO2 sebagai biang
keladinya.
Tidak ada bukti yang mendukung hal ini. Tidak ada korelasi antara
kejadian dan keparahan angin topan dengan konsentrasi CO2 di atmosfer.
Pembayaran klaim asuransi tentu saja meningkat. Hal ini karena warga
Amerika bermigrasi ke daerah selatan yang lebih hangat. Florida
mempunyai populasi 20 juta jiwa dan nilai real estate di daerah ini
juga tentu ikut meningkat.
6. Karena emisi anthropogenic, es kutub mencair dan
permukaan laut meningkat. Peningkatan permukaan air laut dapat
menenggelamkan negara-negara yang berada di Pasifik dan Samudra Hindia
(gw – wah jg2 indonesia juga)
Sebelum pertemuan AP6 di Sydney pada 11-12 Januari 06 (the Asia
Pacific Partnership on Clean Developtment and Climate, APPCDC),
permintaan perhatian dilakukan oleh perwakilan Pacific Island States.
AOSIS (Alliance of Small Island States) mengklaim, karena global
warming, permukaan air laut meningkat, pulau-pulau mereka kini berada
di bawah permukaan air, dan permintaan khusus kepada Pemerintah
Australia adalah untuk memberikan visa permanen kepada warga negara
tersebut.
Masalahnya adalah tidak ada bukti yang mendukung klaim mereka. The
South Pacific Sea Level and Monitoring Project, menemukan tidak adanya
bukti kenaikan permukaan air laut.
Morner dan timnya melakukan investigasi yang mendalam pada klaim
yang dibuat oleh IPCC bahwa Pulau Maldive di Samudra Hindia beresiko
atas kenaikan permukaan air laut yang dipercepat oleh global warming.
Dia menemukan bukti kuat bahwa permukaan air laut di pulau Maldive
turun selama 30 tahun terakhir, dan dulunya pulau tersebut beserta
penghuninya selamat dari peningkatan permukaan air laut. Yang jarang
disinggung yaitu bahwa banyak dari pulau ini berada dekat perbatasan
lapisan kerak bumi, yang pergerakannya bertanggung jawab atas naik
turunnya pulau tersebut terhadap permukaan air laut.
Global warmers berpendapat kenaikan permukaan air laut disebabkan
oleh mencairnya es kutub dan oleh karena itu permukaan air laut juga
meningkat. Tampaknya para global warmers tidak mengerti bahwa Es Arctic
mengapung di laut Arctic, yang menghasilkan perbedaan kecil apakah ini
berada pada bentuk es atau bentuk cair. Bentuk es (padat) mempunyai
kepadatan 90% dari bentuk cair dan mengapung di dalam air.
Kapanpun tayangan tentang kenaikan permukaan air laut muncul di TV,
kita melihat gunung es lahir dari retakan lapisan es. Kita tidak
melihat salju turun diatas lapisan es Antarctic beberapa ribu meter
tingginya di atas permukaan laut dimana temperaturnya jarang sekali
berada di atas titik beku. Pengamatan satelit pada lapisan es Greenland
menunjukkan penebalan bukan pengurangan, dan lapisan es Antarctic
mendekati keseimbangan.
7. Kecuali emisi anthropogenik CO2 dikurangi 50-60 persen
dari tingkat yang sekarang pada tahun 2050, maka pada tahun 2100 anak
cucu kita akan menahan temperatur global antara 1.4 sampai 5.8°C lebih
panas dari sekarang
Klaim ini berdasarkan proyeksi yang berasal dari model yang
dijalankan oleh computer canggih yang ditujukan untuk mensimulasikan
respon atmosfer terhadap perubahan konsentrasi CO2. Klaim bahwa
computer dapat melakukan ini dan menghasilkan hasil yang berarti
dianggap omong kosong oleh ilmuan dalam bidang mekanika cairan, numeric
modelling sistem kompleks, dan dalam bidang iklim.
Misalnya, Hendrik Tennekes, menulis:
tugas untuk menemukan semua mekanisme umpan balik non linier dalam
mikrostruktur keseimbangan radiasi mungkin seperti mencari jarum dalam
jerami. Ketaatan buta pada ide miring bahwa model iklim dapat
dihasilkan mendekati aslinya melalui simulasi iklim adalah alasan utama
mengapa saya tetap skeptis pada climate change. Dari latar belakang
saya dalam bidang turbulensi saya menunggu hari hari dimana model iklim
akan dijalankan dengan resolusi kurang dari satu kilometer. Masalah
ramalan mengerikan dari aliran turbulen kemudian akan menurun pada ilmu
iklim sebagai balas dendam.
Reid Bryson, Emeritus Professor di University of Winconsin, dan
dianggap oleh banyak ahli klimatologi sebagai ‘bapak klimatologi’
menulis:
Sebuah model tidak lebih dari pernyataan formal tentang apa yang
dipercaya si pembuat model mengenai bagian dunia yang dikerjakannya…
mungkin butuh bertahun-tahun sebelum kapasitas pengetahuan manusia dan
computer cukup untuk membuat simulasi yang beralasan… model yang
digunakan mempunyai kesalahan yang sama, tapi hal ini tidak
mengejutkan, karena pada dasarnya model yang satu adalah cloning dari
yang lain.
Bill Kininmonth dari Australia, direktur dari the National Climate Centre dari tahun 1986 sampai 1998 menulis:
Kemampuan yang tampak pada computer model untuk mensimulasikan
temperatur permukaan global dari abad 20 muncul dengan banyak asumsi
dan kelemahan. Walupun IPCC membela diri, tidak mustahil untuk
mengisolasi gas rumah kaca anthropogenik sebagai penyebab (atau bahkan
penyebab utama) untuk mengamati pemanasan pada dua dan paruh dekade
abad 20. Peningkatan glasier gunung sampai pertengahan abad 19, dan
keberadaan mereka mundur, menunjuk ke arah proses alam skala besar yang
secara sistematis mempengaruhi sistem iklim dalam jangka waktu yang
lama. Apakah sistematis proses adalah proses internal iklim atau sebuah
akibat dari luar, atau kombinasi keduanya, tidak dapat ditentukan
dengan tingkat kepercayaan berapapun berdasarkan data dan alat analisis
yang ada. Sudah sewajarnya, respon sensitif dari temperatur bumi
terhadap serangan gas rumah kaca tidak dapat diskalakan dengan
merekomendasikan kepada besarnya peningkatan temperatur global saat ini
dan serangan dari gas rumah kaca anthropogenik seperti yang ditunjukkan
dalam simulasi model komputer dari abad ke 20.
8. Penyakit daerah tropis seperti malaria dan Demam Berdarah Dengue akan menyebar ke daerah beriklim sedang
Dalam kebohongannya, klaim yang satu ini mengherankan. Segera
setelah IPCC mengeluarkan argumen ini pada tahun 1995, diantara sekian
banyak kasus, kasus Oliver Cromwell yang meninggal karena malaria di
London pada September 1658 pada periode dingin yang istimewa di Inggris
dijadikan alasan. Paul Reiter, mantan Chief of the Entomology Section,
Dengue Section, di US Centre for Disease Control and Prevention di San
Juan, dan sekarang pada Pasteur Institute di Paris menulis tentang
malaria di Inggris dan Eropa Utara selama abad ke 17. Diskusinya
tentang malaria memberikan pengetahuan yang sangat menarik tentang
resiko hidup di daerah berpaya-paya seperti di daerah Westminster dan
di muara pesisir Thames.
Profesor Reiter berkomentar atas diskusi malaria dalam Second Assessment Report-nya IPCC:
Literature ilmiah tentang penyakit yang disebabkan nyamuk sangatlah
banyak, namun referensi babnya terbatas pada artikel ringan, banyak
yang malah tidak jelas, dan hampir semuanya memberi kesan meningkatnya
angka kejadian penyakit ini pada iklim yang menghangat. Kekurangan
informasinya tidaklah mengejutkan : belum ada peneliti yang menulis
riset paper tentang masalah ini! Lebih lagi, 2 dari penulis yang adalah
dokter, telah menghabiskan hampir seluruh karirnya sebagai aktivis
lingkungan. [salah satunya telah mempublikasikan artikel ‘profesional’
sebagai ‘ahli’ dalam 32 bidang, mulai dari keracunan merkuri sampai
ranjau darat, globalisasi sampai alergi, dan virus West Nile sampai
AIDS]
Salah satu penulis yang berkontribusi adalah seorang entomologi,
yang juga seorang yang menulis artikel yang tidak jelas tentang DBD dan
El Nino, tapi yang paling menarik adalah artikel tentang keefektifan
helm pada kecelakaan motor (ditambah satu paper tentang efek telepon
seluler pada kesehatan).
Reiter menunjukkan bahwa malaria dan penyakit tropis lainnya
membutuhkan kondisi-kondisi tertentu selain temperatur dalam
penyebarannya. Contohnya, dia telah menganalisis perbatasan
Texas-Meksiko, dimana DBD lazim ditemukan di Meksiko dan jarang di
Texas meskipun kondisi lingkungannya mirip. Yang membedakan hanyalah
kondisi kehidupannya.
9. Mematikan pembangkit listrik tenaga batubara dan
menggantinya dengan sumber yang dapat diperbaharui seperti kincir angin
dan tenaga matahari(atau bahkan tenaga nuklir) tidak akan menyebabkan
kerugian ekonomi
Ahli lingkungan bertahan menolak dampak ekonomi yang disebabkan
dekarbonisasi. Di satu pengertian khusus mereka secara teoritis benar.
Jika kita semua secara sukarela naik sepeda daripada motor; jika kita
mau aliran listrik hanya mengalir di saat angin bertiup saja; jika kita
siap untuk tidak memakai pupuk dan traktor lagi; jika kita siap untuk
hidup seperti jaman nenek moyang kita dahulu di abad ke 19; kita semua
masih dapat bekerja, walaupun bekerja di malam hari akan menjadi sulit
karena tidak adanya listrik.
Harga yang harus dibayar Australia jika membuang energy listrik
berbasis batubara adalah sebagian besar industri ekspor akan mengalami
kematian, yaitu pertambangan, pengolahan metal, pertanian, dan
pengolahan makanan, yang membutuhkan energi besar dan menghasilkan
untung dari penghematan energy. Energi berbasis batubara di Australia
seharga $30-$40 per megawatt jam (MWh). Tenaga nuklir seharga $70-$80
per MWh, dua kali lipatnya. Kincir angin, yang menghasilkan listrik
hanya jika angin bertiup, seharga $80-$130 per MWh, dan membutuhkan
backup yang dapat diandalkan dan tentu saja menjadi tidak ekonomis.
Energy matahari seharga antara $300-$500 per MWh dan tersedia hanya
jika matahari bersinar.
Sejumlah ekonom (di Australia) telah menaiki kereta global warming
dalam rangka mempromosikan yang mereka sebut mekanisme pasar untuk
mereduksi emisi karbon. Perdagangan emisi merupakan proposal yang
murah. Semua rencana kotor ini berbeda-beda di pasaran, misalnya
lisensi taksi. Setiap kota besar di Australia mempunyai lisensi yang
membatasi jumlah taksi yang beroperasi. Hal ini menciptakan faktor
tambahan yang meningkatkan nilai lisensi taksi, dan lisensi ini
diperdagangkan dengan total order $250.000. Jika peraturan yang
menyatakan pengemudi taksi harus memiliki lisensi dihapuskan, nilai
lisensi akan menjadi nol.
Lisensi ini menimbulkan pajak yang harus dibayar oleh pengguna
taksi. Lisensi emisi untuk pembangkit energi atau kilang minyak akan
dijalankan dengan cara yang sama. Yang tidak diketahui adalah seberapa
besar pajak pada emisi karbon akan ditetapkan supaya pengguna listrik
mau mengurangi konsumsi listrik mereka sampai batas yang ditetapkan.
Contoh pengguna listrik besar misalnya peleburan aluminium dan pupuk
tanaman, akan memindahkan perusahaan mereka ke negara lain. Perusahaan
automobile Australia, yang sudah terancam oleh kompetisi internasional,
akan ditutup. Dan efek dominonya akan menyebar ke seluruh ekonomi
Australia menyebabkan pengangguran pada sektor industri pada awalnya
dan kemudian merambah ke sektor lain (penulis artikel ini dan
organisasinya berasal dari Australia).
Dampak ekonomi tersebut juga akan berdampak pada politik. Tidak akan
ada pemerintah yang memperkenalkan pajak karbon ini yang akan menang di
pemilu, sementara itu dampak yang dibawa akan berlangsung lama.
Kesimpulan
Penipuan global warming telah menjadi peristiwa ilmiah paling luar
biasa setelah periode perang. Begitu banyak orang, dan institusi, telah
terperangkap dalam jaring ketidakjujuran, terkuasai pikirannya oleh
aktivis lingkungan melalui NGO (non government organization) dan
manipulasi mereka pada proses-proses IPCC, bahwa integritas ilmiah
barat pada kondisi beresiko serius. Pembongkaran jaring ini akan
menyebabkan banyak individu kehilangan reputasinya, tapi yang lebih
penting, dalam merestrukturisasi institusi-institusi ilmiah yang telah
mengikatkan reputasi mereka pada IPCC. Masalah tersebut sekarang
menjadi agenda politik. ( By Ray Evans
)
dibajak dari : sini

You must be logged in to post a comment.